Minggu, 28 Maret 2021

SEJARAH SINGKAT BAPAK NURTANIO


 

Share by Letda Tek Iqbal 

NURTANIO

PERINTIS INDUSTRI PESAWAT TERBANG INDONESIA

 Sebuah karya dari J. M. V. Soeparno


Nurtanio lahir dari keluarga terpelajar, dan diasuh serta dididik secara terpelajar pula pada zamannya. Sejak bersekolah menengah, meski masih di alam terjajah, Nurtanio sudah mulai tertarik pada pesawat terbang. Hampir seluruh waktu senggangnya digunakan untuk membuat dan menerbangkan pesawat model, apalagi pada masa liburan. Salah satu kegemarannya sejak mulai bersekolah adalah membaca buku dan majalah teknik. Sejak bersekolah MULO di Semarang, sering kali Nurtanio mengajak Nurprapto pergi ke lapangan terbang di Kalibanteng untuk melihat sebuah pesawat terbang.

          Salah seorang anak bangsa yang layak dikenang dan dihormati sebagai perintis, bahkan sebagi cikal bakal Industri Pesawat Terbang Indonesia adalah Nurtanio. Hampir sepanjang hayat dan seluruh karya intelektualnya di bidang teknologi pesawat terbang, dipersembahkan kepada bangsa dan negara yang sangat dicintainya. Sejak awal perang kemerdekaan sampai gugur di cockpit sebuah pesawat terbang Maret 1966, dia terus berusaha mempersiapkan kemampuan bangsanya untuk dapat memproduksi pesawat terbang sendiri.

          Sejak masih bersekolah di zaman terjajah, Nurtanio sudah mulai tertarik dan bahkan gandrung dengan dunia penerbangan. Pada awal perang kemerdekaan, Nurtanio mulai bergabung dengan para perintis AURI pimpinan S. Suryadarma. Seperti halnya R.J Salatun dan Wiweko Soepono langsung dari pemuda pejuang dan hanya berpengalaman sebagai aeromodeller dan Pembina aero club. Ketiganya menjadi sekawan dalam satu kesatuan AURI, yang waktu itu masih disebut TKR Jawatan Penerbangan.

          Dalam suatu diskusi bertiga tentang kekuatan udara bagi Negara merdeka tercetuslah suatu pandangan yang selanjutnya menjadi visi perjuangannya. “Sebaiknya Indonesia tidak terlalu bergantung pada jasa penerbangan negara lain. Suatu saat Indonesia harus memiliki pesawat terbang buatan sendiri”. Kondisi serba keterbatasan pada awal merdeka dan akibat blockade udara lawan di masa perang Kemerdekaan, justru mampu membuka sebuah visi tentang perlunya kekuatan udara, “air power”, bagi Indonesia merdeka, dan dapat membuta pesawat terbang dan merintis industrinya.

Visi dan misi yang begitu diyakini kebenarannya, semakin membulatkan tekad Nurtanio untuk dapat mempersiapkan kemampuan Bangsa Indonesia membangun sebuah industri pesawat terbang. Setelah terlihat keseriusan mewujudkan komitmennya, antara lain dengan membuat enam pesawat glider di masa perang kemerdekaan, Nurtanio ditugaskan ke Filipina untuk belajar teknologi pesawat terbang di FEATI University. Sekembali ke tanah air, Nurtanio sebagai perwira angkatan udara, sarjana teknologi pesawat terbang dan sekaligus penerbang muda usia, ditugaskan di Depo Perawatan Teknik Udara, untuk merawat dan memperbaiki pesawat terbang AURI, sebuah tugas dan tanggung jawab profesi yang telah dirintisnya, sekaligus mempersiapkan pelaksanaan misi dan komitmen perjuangannya.

Dengan penuh rasa percaya diri dibangkitkan kembali keinginan dan semangatnya untuk dapat membuat pesawat terbang sendiri, Nurtanio mulai menggambar rancangan, menyiapkan bahan materil. Alhasil Nurtanio bersama teman teknisinya dapat membuat berbagai prototype pesawat terbang, baikyang “fixed wing” maupun “rotary wing”. Diantaranya sebuah pesawat terbang militer anti gerilya “Si Kumbang”, pesawat latih “Belalang”, pesawat olahraga “Kunang” dan beberapa jenis helicopter. Semuanya dikerjakan tanpa mengesampingkan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari sebagai Komandan Depo Perawatan Teknik Udara, Direktur Pemeliharaan Materiil samapai Wakil Kepala Staf Teknik.

Karsa dan Karya Nurtanio membangun industri pesawat terbang baru terhenti setelah Nurtanio tiada. Dia gugur sewaktu bertugas melakukan test flight sebuah pesawat terbang, yang justru bukan buatannya. Nurtanio meninggalkan seluruh karya intelektual dan teknologi pesawat terbang yang sangat cemerlang pada zamannya. Nurtanio meninggalkan suatu kemampuan Bangsa Indonesia untuk membangun, memiliki, dan mengelola sebuah industry pesawat terbang.

 

YANG MENARIK DARI BUKU INI

          Buku ini menggambarkan mengenai detail kehidupan Bapak Nuratanio sejak lahir hingga beliau gugur dan kini namanya masih harum di dunia kedirgantaraan Indonesia. Buku yang menarik untuk dibaca dan dapat dijadikan motivasi bagi generasi muda negeri ini.

 

MORAL OF THE STORY

Yang bisa dicontoh dari Bapak Nurtanio adalah beliau terkesan sederhana, rendah hati, gigih, dan tekun bekerja. Karya pengabdian Nurtanio sebagi seorang perwira angkatan udara sekaligus sarjana aeronautical engiinering, diakui dan sangat dihargai oleh generasi penerusnya. Beliau adalah perintis dan cikal bakal industri pesawat terbang Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar