"Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Siapa yang tidak mengenal peribahasa ini. Karena ini lah yang harus dipegang oleh seseorang yang mengunjungi daerah atau komunitas baru, segera pelajari aturan dan kebiasaan yang berlaku disana. Bahkan bagi anggota militer, ada isitilah "2 x 24 jam waktu orientasi," segera analisa dan kuasi medan untuk melaksanakan pegugasan selanjutnya. Apabila hal ini kita coba tarik jauh ke negara super power seperti Amerika, khususnya pada dimensi pendidikan militer tingkat lanjut yang diterapkan disana. Mereka menyebutnya dengan isitlah Prefessional Military Education (PME), yang salah satunya dilaksanakan oleh lembaga pendidikan Air University milik U.S. Air Force (USAF) yang berlokasi di Maxwell Air Force Base, Montgomery-Alabama.
Tujuan utama lembaga pendidikan seperti Air University bagi militer U.S. agar menjadi tentara yang profesional dengan memiliki wawasan yang luas tentang kepemimpinan dan dunia internasional, serta pemahaman yang mendalam terhadap dunia militer khususnya operasi militer dan kampanye militer. Tidak bisa dimungkiri, kualitas dari program pendidikan ini lah yang menyebabkan U.S. menjadi kekuatan militer terbesar dan terbaik di dunia sampai dengan saat ini (paling tidak itu yang terlihat). Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas khusus mengenai program pendidikan Air Command and Staff College (ACSC) dari kacamata seorang siswa internasional/International Officer (IO). Secara garis besar, metode pendidikan ACSC memiliki jam pelajaran kelas yang sedikit, namun mengharuskan siswa mengalokasikan jam membaca yang banyak setiap harinya. Why? mari kita kupas bersama.

