Jumat, 09 Januari 2026

ARTIKEL KARYA ILMIAH UNIVERSITAS TERBUKA

 

Keluarga Terdidik Indonesua Unggul

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN MILITER DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PERSONEL DI LANUD SURYADARMA UNTUK MENJAGA KESELAMATAN PENERBANGAN

  

Dolly Johan Perkasa Hutagalung1)

Hildawati2)

1)Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka

2)Dosen Program Studi Karya Ilmiah, Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Terbuka

Email: 1galungs8007@gmail.com, 2hildrias81@gmail.com

 

ABSTRAK

Perhatian khusus terhadap kinerja personel dalam keselamatan dunia penerbangan di Lingkunagan TNI Angkatan Udara sangatlah penting dan merupakan salah satu indikator keberhasilan kinerja. Oleh karena itu perlu adanya gaya kepemimpinan dan budaya organisasi yang dapat mempengaruhi kinerja personel pada bidang keselamatan penerbangan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pengaruh secara signifikan gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kinerja personel untuk menjaga kesealamat dalam penerbanagan. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan TNI Angkatan Udara Lanud Suryadarma. Objek yang unit analisis yaitu personel TNI Angkatan Udara di Lanud Suryadarma, yang dimana variable (X1) Gaya kepemimpinan dan (X2) Budaya organisasi yang mempengaruhi vaiabel (Y) Kinerja personel. Jenis penelitian ini penelitian kualitatif yaitu mengenai pengalaman yang terjadi di Lanud Suryadarma dengan teknik penelitian wawancara mendalam, survei dan observasi partisipan. Dari hasil penelitian terdapat adanya pengaruh secara signifikan gaya kepemimpinan terhadap kinerja personel dan pengaruh langsung budaya organisasi terhadap kinerja personel yang mengakibatkan meningkatnya kinerja personel dalam menjaga keselamatan di penerbangan TNI Angkatan Udara Lanud Suryadarma.

Kata kunci: Budaya Organisasi, Gaya Kepemimpinan, Kinerja Personel

ABSTRACT

Special attention to personnel performance in aviation safety within the Indonesian Air Force is very important and is an indicator of successful performance. Therefore, there is a need for a leadership style and organizational culture that can influence personnel performance in the field of aviation safety. Therefore, the aim of this research is to determine whether leadership style and organizational culture have a significant influence on personnel performance in maintaining safety in aviation. This research was carried out within the Indonesian Air Force at Suryadarma Air Base. The object of the unit of analysis is the Indonesian Air Force personnel at Suryadarma Air Base, where the variables (X1) Leadership style and (X2) Organizational culture influence the variable (Y) Personnel performance. This type of research is qualitative research, namely regarding experiences that occurred at Suryadarma Air Base using research techniques of in-depth interviews, surveys and participant observation. From the research results, there is a significant influence of leadership style on personnel performance and a direct influence of organizational culture on personnel performance which results in increased personnel performance in maintaining flight safety on Indonesian Air Force at Suryadarma Air Base.

Keywords: Leadership Style, Organizational Culture, Personnel Performance

 

1.      PENDAHULUAN

 

Peran pemimpin dalam sebuah instansi pertahanan Negara sangatlah penting untuk memajukan suatu negara yang berdaulat dan berinteregritas. Seorang pemimpin sebagai pemegang kendali dan pengambil keputusan oleh karenanya gaya kepemimpinan seseorang sangat mempengaruhi pencapaian kinerja dan tujuan. Upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan tidak hanya dari kepemimpinan saja, melainkan faktor yang mempengaruhi kinerja dan tujuan yaitu budaya organisasi yang kuat yang dapat menciptakan kinerja karyawan yang tinggi dalam suatu organisasi. Permasalahan yang sering terjadi pada suatu organisasi meliputi rendahnya kinerja karyawan, yang mengakibatkan kurangnya produktivias dan inovasi dalam organisasi, adanya ketidak sesuaian pencapaian target yang dilaksanakan, kurangnya efisiensi waktu serta kurangnya dedikasi terhadap instansi atau organisasi. Hal tersebut mengakibatkan defisitnya nilai disiplin sehingga menimbulkan pelanggaran terhadap aturan yang telah diberlakukan oleh instansi atau organisasi.

TNI Angkatan Udara (TNI AU) merupakan instansi pertahanan negara di udara dengan melaksanakan tugas bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara. TNI AU dalam melaksanakan tugas tersebut memerlukan sumber daya manusia yang profesional sehingga perlu pembinaan yang terus menerus dan berkelanjutan dengan melakukan pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara. Hal tersebut memerlukan adanya dukungan peran pemimpin yang dapat menjalankan roda organisasi dengan baik. Gaya Kepemimpinan di militer khususnya di TNI AU berdampak langsung pada keselamatan dunia penerbangan, para anggota TNI AU akan loyalitas terhadap pekerjaan yang ditugaskan jika seorang pemimpin yang loyalitas juga terhadap para anggota dan satu tujuan untuk mencapai visi dan misi yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah demi mempertahanan kedaulatan di udara dari ancaman luar maupun penanganan masalah keamanan penerbangan. (Adam, 2021)

Penelitian ini akan merujuk pada berbagai studi kasus terdahulu yang menunjukkan pentingnya peran kepemimpinan dalam membangun budaya keselamatan, serta berbagai kendala yang mungkin timbul dalam implementasi budaya tersebut di wilayah  pertahanan negara. Beberapa studi terkait kepemimpinan militer dan budaya keselamatan di lingkungan kerja akan menjadi referensi utama dalam pembahasan ini. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman mengenai hubungan antara kepemimpinan dan kinerja personel dalam konteks keselamatan terbang dan kerja, serta memberikan kontribusi terhadap perbaikan manajemen di Lanud Suryadarma.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja personel dalam membangun budaya keselamatan di Lanud Suryadarma, serta untuk mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan budaya organisasi terhadap kinerja personel dalam keselamatan penerbangan tersebut. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk memperbaiki penerapan budaya keselamatan, baik dalam hal anggaran, pengelolaan sumber daya manusia, maupun prioritas kebijakan di lingkungan Lanud Suryadarma.

 

2.      KERANGKA PIKIR

2.1 Kepemimpinan Militer dan Kinerja

Model kepemimpinan dalam perspektif militer adalah kepemimpinan yang memiliki hubungan erat dengan praktik kepemimpinan yang menerapkan prinsip, nilai, ideologi, wacana, dan perilaku militer yang meliputi komando, hirarki, disiplin, dan keseragaman (Pertiwi et al., 2022). Para pemimpin militer harus mampu menghadapi kompleksitas budaya dan poilitik yang ada didalam dan diluar organisasi sehingga mampu memberikan kinerja yang baik demi tercapainya tujuan organisasi. Beberapa penelitian menunjukkan adanya inkonsistensi temuan pada hubungan kepemimpinan militer dan kinerja. Yusuf (2016) menemukan bukti bahwa kepemimpinan berpengaruh negatif terhadap kinerja, sedangkan Prasetyo (2017) membuktikan tidak terdapat pengaruh, sementara itu  penelitian lain menunjukkan adanya pengaruh positif (Joenoes, 2022). Adanya inkonsistensi menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut, sehingga salah satu tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui peran kepemimpinan militer dalam mempengaruhi kinerja anggotanya.

Kepemimpinan pada dasarnya adalah seni dalam mempengaruhi dan mengajak orang lain untuk mengikuti pemikirannya sesuai maksud dan tujuannya baik untuk kepentingan pribadi atau organisasi dalam skala kecil atau besar (Marisa & Nur, 2021). The British Defence Doctrine menjelaskan bahwa kepemimpinan militer adalah proyeksi kepribadian dan karakter seorang pemimpin untuk membuat bawahannya melakukan apa yang diminta darinya dan melahirkan keyakinan yang mengembangkan inisiatif, resiko, dan tanggung jawab. Berdasarkan doktrin tersebut, beberapa unsur dapat diambil sebagai ciri kepemimpinan militer. Di antara elemen-elemen tersebut adalah pengaruh, tujuan, dan personel. Kepemimpinan memiliki unsur pengaruh sebagai aspek utama dalam menggerakkan sumber daya organisasi.

Tinjauan holistik studi tentang pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja penting untuk dapat menunjukkan sifat hubungan antara kedua variabel (Danisman & Engin, 2015). Kepemimpinan pada dasarnya membantu pengikut mencapai tujuan mereka saat mereka bekerja dalam pengaturan organisasi; itu mendorong pengikut untuk menjadi ekspresif dan adaptif terhadap praktik dan perubahan baru dan lebih baik di lingkungan (Azka et al., 2011). Schermerhorn et al. (2011) dan Uhl-Bien et al. (2014) menyatakan bahwa sangat penting bagi manajemen dalam memahami dan menemukan berbagai sumber kepemimpinan yang akan mengarah pada peningkatan kinerja organisasi. Penelitian lain menunjukkan adanya pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja (Joenoes, 2022).

 

2.2  Budaya Organisasi dan Kinerja

Budaya organisasi merepresentasikan persepsi yang dimiliki oleh anggota organisasi. Budaya organisasi didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan, nilai, dan asumsi yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi yang selanjutnya menghasilkan dampak pada efektivitas organisasi (Meng & Berger, 2019). Pernyataan tentang budaya organisasi hanya valid jika individu dengan latar belakang berbeda atau pada level berbeda dalam organisasi menggambarkan budaya dalam istilah yang sama (Ostroff et al., 2013). Budaya organisasi penting untuk diperhatikan karena menyangkut kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam hirarki organisasi yang mewakili norma-norma perilaku yang diikuti oleh seluruh anggota organisasi (Syardiansah et al., 2020).

Terlepas dari kerumitannya, kebanyakan orang akan memiliki gagasan tentang apa itu budaya (Soeters et al., 2007). Budaya militer adalah salah satu yang menambah kualitas dan kemampuan profesionalitas prajurit modern (Vitalairu & Mosoiu, 2016). Budaya organisasi disebut dapat menjelaskan kinerja organisasi (Meng & Berger, 2019). Beberapa penelitian sebelumnya pada sektor publik menunjukkan adanya inkonsistensi hasil temuan. Disebutkan bahwa budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja (Budiargo et al., 2019; Ichsan & Nasution, 2020; Prasetyo, 2017; Sunarsi, 2019). Adapun penelitian lain menunjukkan adanya hubungan negatif (Enjeli, 2020; Khasanah, 2019), dan tidak adanya pengaruh (Girsang, 2019). Penilitian ini mengambil tema yang sama dengan penelitian terdahulu.

Sebagai organisasi yang memiliki ciri budaya militer, TNI AU mengharuskan setiap individu yang akan menjadi anggotanya maupun anggota yang akan naik tingkatan memiliki komitmen sesuai dengan visi dan misi organisasi tersebut. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa budaya berpengaruh terhadap kinerja (Budiargo et al., 2019; Ichsan & Nasution, 2020; Prasetyo, 2017; Soomro & Shah, 2019; Sunarsi, 2019).

 

3.      METODE

Objek dalam penelitian ini adalah kinerja (Y), kepemimpinan militer (X1), dan budaya organisasi (X2). Adapun yang menjadi subjek dan sekaligus populasi penelitian adalah seluruh personel TNI AU di lingkungan Lanud Suryadarma. Variabel kinerja pimpinan militer dalam penelitian ini diukur menggunakan peraturan panglima TNI No. Perpang/93/XI/2011, yaitu: kemampuan melaksanakan tugas di bidang pertahanan, menjaga keamanan wilayah, pengembangan kekuatan satuan, dan pemberdayaan wilayah. Dimensi dari variabel kinerja pimpinan militer meliputi kuantitas, kualitas, kreativitas, kerjasama, inisiatif, dan kualitas pribadi. Variabel kepemimpinan militer diukur menggunakan konsep dari Yildiz (2014), yaitu kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. Dimensi dari variabel kepemimpinan adalah task-oriented, relations-oriented, change-oriented, dan external. Variabel budaya organisasi diukur dengan menggunakan dimensi perilaku individu, norma, nilai dominan, falsafah organisasi, peraturan yang berlaku, dan iklim organisasi.

Penelitian ini bersifat penelitian kualitatif yang dimana Menurut Creswell (2016) penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang mengeksplorasi dan memahami makna di sejumlah individu atau sekelompok orang yang berasal dari masalah sosial. Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, konsep atau fenomena, masalah sosial, dan lain-lain. Adapun kerangka penelitian sebagai berikut:

(X1) Kepemimpinan Militer >>>>>>>

                                                                  (Y) Kinerja Personel

 (X2) Buadaya Organisasi >>>>>>>>

 

4.      HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kepemimpinan Militer dan Kinerja

Hasil penelitian ini mendukung penelitian terdahulu oleh Jeremy et al. (2012); Iman & Lestari (2019); Rawashdeh (2018); dan Fitriasari & Mauludin (2018) yang mengutarakan bahwa faktor kepemimpinan dalam suatu organisasi menjadi sangat penting manakala individu/anggota organisasi memiliki dinamika yang tinggi dalam aktivitasnya. Obiwuru et al. (2011) menemukan fakta bahwa gaya kepemimpinan yang berbeda dapat menghasilkan kinerja yang berbeda. Suatu organisasai akan berhasil atau bahkan gagal sebagian besar ditentukan oleh faktor kepemimpinan.

Hubungan antara pemimpin dan bawahan, juga sebagai kualitas kinerja, secara signifikan dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang dianut. Peningkatan kinerja organisasi memerlukan pengembangan manajemen dan kepemimpinan. Penelitian mengenai pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja penting untuk dapat menunjukkan sifat hubungan antara kedua variabel (Danisman & Engin, 2015). Pada dasarnya, kepemimpinan merupakan motor penggerak terpenting untuk meningkatkan kinerja organisasi. Akan tetapi perlu diingat jika kepemimpinan tidak dapat dianggap berhasil dan tidak penting dalam konteks organisasi jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan tujuan bersama (Koech & Namusonge, 2012),

Dalam lingkungan militer, pemimpin mempunyai posisi sentral bagi kehidupan keprajuritan, karena organisasi yang menitikberatkan garis komando sehingga seorang pemimpin harus memahami tugas dan tanggung jawab yang diproyeksikan untuk memimpin satuan di jajaran TNI. Kepemimpinan dalam TNI ikut menentukan terbentuknya kinerja prajurit, semakin baik kepemimpinan, maka semakin tinggi pula kinerja prajuritnya (Fitriani et al., 2022). Tanpa kepemimpinan, hubungan antara tujuan pimpinan dan tujuan TNI AU mungkin menjadi renggang. Memahami kepemimpinan yang dikembangkan TNI AU berarti melihat kepemimpinan sebagai satu kesatuan yang terintegrasi yang terdiri dari unsur manusianya, baik pemimpin maupun yang dipimpin, perangkat lunak yang mengatur, teori, gaya, watak dan berbagai pengetahuan pendukung yang menyertai serta lingkungan yang mempengaruhi.

 

4.1.1. Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kinerja Personel Untuk Menjaga Keselamatan Penerbangan di Lanud Suryadarma

Keselamatan kerja selalu menjadi perhatian bagi seluruh instansi baik publik maupun swasta khususnya yang pekerjaannya memiliki tingkat risiko yang tinggi, karena keberhasilan instansi tersebut turut dipengaruhi oleh tingkat keselamatan karyawannya dalam melaksanakan pekerjaan. Tidak terkecuali terjadi di TNI AU yang secara khusus memisahkan keselamatan penerbangan dari keselamatan kerja, di mana TNI AU lebih terkenal dengan sebutan keselamatan terbang dan kerja (Lambangja). Hal ini menunjukkan komitmen TNI AU secara organisasi untuk menciptakan keselamatan pada bidang penerbangan dengan cara membangung budaya keselamatan (safety culture). Untuk memuwujudkan hal tersebut, TNI AU telah membentuk organisasi bernama Pusalaiklambangjaau (pusat kelaikan, keselamatan terbang dan kerja AU) yang dipimpin oleh perwira tinggi berpangkat bintang dua, yang memiliki jalur koordinasi sampai dengan satuan terendah di TNI AU. Namun demikian, penerapan Lambangja di level taktis tetap dipengaruhi oleh peran pimpinan yang berada di setiap satuan.

Komandan Lanud (Danlanud) Suyadarma dalam melaksanakan tugas pokoknya dibantu oleh satu orang komandan wing udara dan empat orang kepala dinas, serta beberapa komandan satuan kerja. Disamping itu, Danlanud juga memiliki staf-staf pembantu yang salah satunya memiliki tugas pokok pada bidang keselamatan, yaitu Kepala Lambangja (Kalambangja) Lanud Surydarma. Kalambangja adalah staf khusus Danlanud bertugas membantu komandan di bidang keselamatan terbang dan kerja. Oleh karena itu, dalam menjaga keselamatan penerbangan Danlanud Suryadarma dapat memerintahkan secara langsung kepada satuan di bawahnya mulai dari komandan wing udara, kepala dinas, sampai dengan rantai komando terkecil. Selain itu, Danlanud dapat memerintahkan Kalambangja untuk membuat program kerja tahunan dalam rangka pencegahan kecelakaan dan membangun budaya keselamatan terbang dan kerja. Menindaklanjuti hal tersebut, Kalambangja membuat rencana program kerja berupa pengayaan literasi, safety meeting, promosi safety berupa banner, poster, dan buletin safety, serta program lainnya baik secara offline maupun online yang bermuara pada peningkatan keselamatan terbang dan kerja.

Sebagai seorang perwira militer, Kalambangja juga merupakan pimpinan di level menengah karena masih memiliki pemimpin di atasnya yaitu Danlanud Suryadarma dan juga membawahi beberapa personel Lambangja. Oleh karena itu, kinerja Kalambangja sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan Danlanud Suryadarma, karena sebagus apapun program kerja bidang Lambangja yang direncanakan oleh Kalambangja tidak akan terlaksana dengan optimal tanpa adanya dukungan penuh dari Danlanud Suryadarma. Disamping itu, Kalambangja juga memiliki atasan tidak langsung yaitu komandan wing udara dan para kepala dinas, beserta jajaran yang berada dibawahnya, dimana dukungan dari mereka juga memiliki kontribusi besar dalam menjalankan program-program Lambangja Lanud Suryadarma.

Berikut ini adalah program kerja Lambangja Lanud Suryadarma tahun 2024 yang telah terlaksana sesuai dengan perintah Danlanud Suryadarma dan disupervisi oleh seluruh level pimpinan yang berada dibawahnya, yaitu: 

NO

NAMA KEGIATAN

PENJELASAN

DURASI

1.

Briefing Lambangja

Briefing terkait kegiatan penerbangan dan kegiatan khusus lainnya

Setiap briefing pagi, atau sesuai kebutuhan

2.

Patroli lingkungan

Dilaksanakan oleh para perwira safety tiap dinas/satuan

Setiap hari kerja

3.

Safety meeting lanud

Diikuti oleh perwakilan tiap dinas/satker, memfasilitasi forum diskusi safety

Setiap semester atau sesuai kebutuhan

4.

Laporan safety

Laporan rutin, maupun laporan incident/accident

Setiap hari, bulan, sesuai kebutuhan

5.

Publikasi safety

Quote, poster, buletin, banner, surat edaran, dan sebagainya

Mingguan, bulanan, sesuai kebutuhan

6.

Survei Lambangja

Mengisi kuisioner secara online kepada personel lanud

Setiap semester

7.

Risk Assesment

Mengidentifikasi potensi bahaya pada tiap kegiatan

Sesuai kebutuhan

8.

Ceramah Lambangja

Membangun safety knowledge, secara offline dan online

Setiap minggu, atau sesuai kebutuhan

Table 1. Program kerja Bidang Lambangja Lanud Suryadarma Tahun 2024

                        Sumber: Lampiran Surat Lambangja Lanud Suryadarma 

Dari data tersebut dapat dilihat tingkat kepedulian yang tinggi dari Danlanud Suryadarma beserta seluruh satuan dibawahnya, sehingga program-program kerja Lambangja mendapat respon positif dan terlaksana dengan baik.

 

4.2       Budaya Organisasi dan Kinerja

Temuan penelitian mendukung penelitian lain yang menemukan adanya hubungan antara budaya organisasi dan kinerja organisasi (Polychroniou & Trivellas, 2018; Prajogo & McDermott, 2011; Wei et al., 2014; Yildiz, 2014). Penelitian lain menyebutkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh tergadap kinerja (Budiargo et al., 2019; Ichsan &

Nasution, 2020; Prasetyo, 2017; Soomro & Shah, 2019; Sunarsi, 2019). Namun hasil penelitian ini tidak dapat mendukung temuan Mousavi et al. (2015) yang menyatakan dimana dimensi dari budaya organisasi memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kinerja organisasi. Hubungan antara budaya organisasi dan kinerja organisasi merupakan subjek yang signifikan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Strategis. Namun perlu diketahui jika budaya organisasi adalah konsep multi-dimensi dan kinerja organisasi dibentuk oleh berbagai kriteria. (Yildiz, 2014).

Budaya organisasi bukan hanya faktor penting dari suatu organisasi, tetapi juga adalah pendorong utama untuk mencapai tujuan dari organisasi. Budaya organisasi sebagai sistem penyebaran kepercayaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu organisasi dan mengarahkan perilaku anggotanya. Oleh karena itu, budaya organisasi sangat mempengaruhi semua yang terlibat dalam organisasi dan kinerja organisasi dapat ditingkatkan dengan nilai-nilai bersama yang kuat. Budaya organisasi membantu individu lebih memahami standar, norma, dan nilai tertentu, sehingga menjadi jelas dan konsisten dalam mengejar keberhasilan atau tujuan organisasi (Yildiz, 2014). Kejelasan dan konsisten yang dimaksud dalam budaya organisasi dapat meredam konflik yang mungkin muncul dalam organisasi. Konflik atau permasalahan tersebut dapat diantisipasi atau akhirnya diselesaikan melalui prosedur standard dan jelas yang tertuang dalam nilai bersama yang dianut (budaya organisasi).

Sifat budaya organisasi menyiratkan betapa pentingnya asumsi kolektif anggota dalam mengartikulasikan, menentukan dan menafsirkan tindakannya, dan secara wajar memprediksi bagaimana organisasi akan bergerak maju (Kim & Chang, 2018). Budaya organisasi kemudian bisa menjadi perekat yang menggabungkan sumber daya nonmanusia dengan sumber daya manusia dalam suatu organisasi untuk membangun kerja tim dan kinerja yang baik (Yirdaw, 2016). Budaya telah disebutkan sebagai prosedur antisipatif dan reaktif terhadap konfik, perekat antara SDM dan non-SDM untuk menciptakan kinerja yang baik, ternyata budaya organisasi juga memberikan kontribusi yang baik untuk tata kelola dan manajemen (O’Connor & Byrne, 2015). Budaya organisasi yang kuat sangat penting untuk meningkatkan kinerja organisasi (Nwibere, 2013; Sharma & Good, 2013).

 

4.2.1    Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Keselamatan Penerbangan di Lanud Suryadarma

Walaupun segala upaya telah dilaksanakan pada setiap level kepemimpinan di Lanud Suryadarma dalam hal peningkatan keselamatan penerbangan, namun budaya organisasi juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keselamatan penerbangan. Lanud Suryadarma berkomitmen mengimplementasikan budaya keselamatan di dalam setiap kegiatan latihan maupun operasi yang dilaksanakan, baik yang bersifat rutin mapun kontingensi. Hal ini juga sejalan dengan komitmen TNI AU melalui Puslaiklambangjaau, yaitu “Road to Zero Accident Tahun 2024,” atau menuju tahun 2024 yang bebas dari kecelakaan.

Budaya organisasi ini telah terbentuk dari kegiatan yang berulang-ulang dalam waktu yang lama baik pada kegiatan formal maupun informal, dari mulai masuk kantor (apel pagi) sampai dengan pulang kantor (apel siang). Khusus untuk kegiatan formal, masing-masing bidang telah memiliki standart operation procedure (SOP), sedangkan untuk yang informal ditularkan secara turun-temurun antar personel lanud Suryadarma, namun keduanya mengalami perubahan karena penyesuaian terhadap perkembangan organisasi. Sebagai contoh adalah SOP Kegiatan Penerbangan. Selama kegiatan penerbangan berlangsung, maka wajib didukung oleh crash team yang terdiri dari petugas pemadam kebakaran, tim kesehatan, tim pengamanan dari Polisi Militer AU, dan tim penyelamatan dari Kopasgat AU. Selain itu, setiap hari nya disiapkan 20 orang personel sebagai pasukan Standby Pangkalan yang berfungsi sebagai pasukan reaksi cepat apabila diperlukan untuk penindakan awal kebakaran, kerusuhan masa, dan bencana alam di lingkungan Lanud Suryadarma.

Dengan adanya bidang Lambangja di Lanud Suryadarma, maka setiap kegiatan yang memiliki potensi risiko akan dilaksanakan mekanisme ‘Penilaian Risiko’ agar dapat diidentifikasi sebelumnya potensi risiko dari kegiatan tersebut, dan bagaimana cara untuk memitigasinya, serta apakah kegiatan tersebut perlu dilanjutkan atau dihentikan. Selanjutnya, akan dikeluarkan rekomendasi oleh Kalambangja terkait kegiatan tersebut, yang akan dijadikan bahan pertimbangan oleh pimpinan dalam melaksanakan kegiatan. Disamping itu, setiap bidang atau satuan yang di wilayah kerjanya mengandung risiko juga memiliki prosedur-prosedur keselamatan masing-masing yang disupervisi oleh Kalambangja dan kepala dinas terkait. Di tingkat lanud juga memiliki prosedur tetap (protap) keselamatan yang berlaku secara umum kepada seluruh personel Lanud Suryadarma, seperti: Protap Penanggulangan Kebakaran di Lingkungan Lanud Suryadarma, Protap Penanggulangan Bencana Alam, dan sebagainya.

Khusus pada bidang penerbangan di Lanud Suryadarma pada tahun 2024 masih terjadi beberapa incident pesawat, namun dengan dampak yang dapat diminimalisir. Adapun datanya sebagai berikut: 

Table 2. Rekapitulasi Insiden Pesawat di Lanud Suryadarma Tahun 2024

NO

TANGGAL

RIGISTRASI

PESAWAT

MACAM KEJADIAN

TINDAKAN

1.

 

18-02-2024

 

HL-1202

 

Hung Start

Penggantian T4 confirmation box

2.

29-02-2024

HL-1209

Adanya double load pada cyclic control

Dilaksanakan bleeding hydraulic liquid dan penggantian screen servo

3.

13-03-2024

HL-1203

Abrasi berat pada bagian leading edge

Dilaksanakan pengecekan pada engine maintenance manual

4.

23-04-2024

HL-1211

Lepasnya sling load

Dilaksanakan pencarian

5.

14-05-2024

HL-1209

VEMD fail

Dilaksanakan penggantian VEMD

6.

30-07-2024

HL-1205

Lower blader ada rembesan

Penggantian lower blader

7.

12-08-2024

HL-1206

VEMD fail

Dilaksanakan pembersihan pada Torque sensor transmitter

8.

30-10-2024

HL-1202

Battery temperature high

Dilaksanakan penggantian battery

9.

12-12-2024

R-395

Suara abnormal dari mesin dan propeller

Dilaksanakan pengecekan spark plug pada mesin

 Sumber: Lampiran Surat Lambangja Wing 8 Lanud Suryadarma 

Dari hasil data pada tahun 2024 dapat dilihat bahwa masih terdapat insiden pesawat di lanud Suryadarma yang turut dipengaruhi oleh budaya kerja personel lanud Suryadarma dan faktor-faktor penyebab kecelakaan lainnya. Namun insiden tersebut dapat dapat ditangani dengan baik sehingga tidak sampai menimbulkan kerugian yang lebih besar, baik pada personel maupun materil. Dari segi kuntitas, jumlah insiden di Lanud Suryadarma juga cukup rendah, yaitu hanya 9 insiden dalam setahun, apabila dibandingkan dengan lanud-lanud lain yang memiliki skadron udara dengan jumlah insiden penerbangan yang lebih tinggi, atau bahkan dengan total insiden yang dialami TNI AU pada tahun 2024 maka yang terjadi di Lanud Suryadarma sangat lah sedikit.

Budaya kerja di Lanud Suryadarma yang memegang teguh prinsip bahwa kecelakaan itu dapat dicegah, berperan penting dalam meminimalisir terjadinya kecelakaan. Disamping itu, peran aktif bidang Lambangja sangat diperlukan sebagai garda terdepan penegakkan budaya keselamatan di Lanud Suryadarma, salah satunya dengan cara memberikan saran dan masukkan kepada pimpinan terkait kebijakan dan program kerja bidang Lambangja, sehingga pimpinan menjadi lebih peduli kepada keselamatan penerbangan dengan memberikan dukungan yang optimal dalam membangun budaya kerja yang berorientasi pada keselamatan. Pimpinan yang peduli pada keselamatan penerbangan akan memberikan dampak positif kepada kinerja personel lanud Suryadarma dan hal ini akan secara langsung berdampak pada peningkatan kinerja lanud Suryadama dalam mendukung tugas pokok TNI AU.

Selain itu, Danlanud Suryadarma telah mengarahkan Kalambangja untuk mengadakan kegiatan survei Lambangja pada semester 1 dan 2 tahun 2024 sebagai bagian dari program kerja tahunan kepada personel lanud Suryadarma dengan menggunakan metode kuesioner guna mendapatkan umpan balik terhadap kinerja organisasi dari sudut pandang personel. Hasil survei dapat memberikan gambaran pengaruh pimpinan dalam membangun pola pikir dan budaya kerja yang berorientasi pada keselamatan penerbangan.  Kegiatan survei semester 1 diikuti oleh 235 responden dari total 673 personel lanud Suryadarma dan insub Skadik 105, atau mencapai 35% partisipan. Adapun aspek-aspek yang disurvei adalah sebagai berikut:

a.       Aspek Ketaatan pada Aturan.       Sebanyak 94,6% responden mendukung, sebanyak 2,9% responden tidak mendukung dan sisanya bersikap ragu-ragu sebanyak 2,5%. Secara umum responden telah memahami aturan serta prosedur yang ada. Namun demikian, penyampaian dan pengawasan tentang aturan keselamatan dan aturan lainnya harus diperhatikan sampai dengan pelaksanaannya. Penegakkan aturan menjadi kunci utama dalam peningkatan disiplin.

b.       Aspek Kepedulian.        Sebanyak 93,1% responden mendukung, sebanyak 3,5% responden tidak mendukung dan sisanya bersikap ragu-ragu sebanyak      3,4 %. Secara umum responden telah memahami potensi bahaya yang ada disekitarnya. Namun demikian, harus tetap dilaksanakan pembinaan secara berkala untuk menjaga tingkat pemahaman seluruh personel. Selain itu, para personel berpendapat bahwa perlu mengingatkan rekan kerja agar selalu berhati-hati terhadap tugas penerbangan dan kerja. Perwira safety menjadi role model dan pelopor dalam meningkatkan kepedulian di lanud Suryadarma.

c.       Aspek Kesadaran.         Sebanyak 91,5% mendukung, sebanyak 4,3% responden tidak mendukung dan sisanya bersikap ragu-ragu sebanyak 4,2%. Secara umum responden berpendapat bahwa mereka harus berpartisipasi dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan keselamatan penerbangan. Responden juga memandang bahwa pelaksanaan briefing sebelum melaksanakan tugas dianggap penting dan diperlukan agar seluruh pekerjaan dapat berjalan lancar. Namun perlu pembinaan kepada seluruh anggota karena masih ada indikasi pemikiran bahwa hanya pimpinan yang bertanggungjawab atas keselamatan di satuan.

d.      Aspek Keterbukaan.      Sebanyak 93,1% responden mendukung, sebanyak 3,5% responden tidak mendukung, dan sisanya bersikap ragu-ragu sebanyak 3,4%. Secara umum sebagian besar personel lanud Suryadarma sudah cukup berani melaporkan isu keselamatan kerja. Namun demikian, tetap perlu diwaspadai personel dengan beban kerja yang tinggi menyebabkan nya kurang aktif dalam pelaporan Disamping itu, terdapat sebagian kecil personel yang kurang berani dalam melaporkan potensi bahaya karena takut akan berkonflik dengan atasan dan rekan kerjanya. 

Selanjutnya, kegiatan survei semester 2 tahun 2024 diikuti oleh 289 responden dari total 679 personel lanud Suryadarma dan insub Skadik 105, atau mencapai 43% partisipan. Adapun aspek-aspek yang disurvei adalah sebagai berikut:

a.       Aspek Budaya Safety.   Sebanyak 97,3% responden mendukung, sebanyak 2,4% responden tidak mendukung dan sisanya bersikap netral sebanyak 0,3%. Secara umum responden berpendapat bahwa mereka sudah menyadari seberapa pentingnya safety. Namun perlu perhatian dan pembinaan kepada seluruh anggota di satuan karena masih ada indikasi pemikiran bahwa hanya komandan dan perwira safety saja yang bertanggung jawab atas safety di satuan.

b.       Aspek Budaya Pelaporan Isu Safety.     Sebanyak 92,9% responden mendukung, sebanyak 3,2% responden tidak mendukung dan sisanya bersikap netral sebanyak 3,9%. Secara umum sebagian besar responden sudah cukup berani untuk melaporkan jika terjadi permasalahan safety. Namun demikian, masih terdapat sebagian koresponden bersikap tidak mendukung dan netral. Hal ini kemungkinan terjadi pada personel dengan beban kerja yang tinggi, dan sebagian personel kurang berani untuk melaporkan karena takut akan berkonflik dengan atasan dan rekan kerjanya.

c.       Aspek Kegiatan Pencegahan Kecelakaan.        Sebanyak 95,3% responden mendukung, sebanyak 2,5% responden tidak mendukung, dan sisanya bersikap netral sebanyak 2,2%. Secara umum sebagian besar responden sudah aktif untuk mencegah permasalahan safety, mulai dari aktif bertanya bila ada suatu hal yang belum diketahui terkait dengan kegiatan, jujur dan melaporkan apabila melakukan kesalahan, dan juga penyampaian materi safety yang dilaksanakan secara rutin.

d.      Aspek Peranan Pimpinan dalam Penegakkan Safety.    Sebanyak 95,4% responden mendukung, sebanyak 2,7% responden tidak mendukung, dan sisanya bersikap netral sebanyak 1,9%. Secara umum responden merasa bahwa peran pimpinan sudah cukup baik dalam penegakan budaya safety di lingkungan kerjanya dan sudah bisa menjadi contoh dalam hal tersebut. Dimulai dari pertimbangan untuk melaksanakan kegiatan, kegiatan melaksanakan evaluasi safety, sampai dengan kesigapannya dalam menanggulangi dan menindaklanjuti bila adanya kendala safety di lingkungan kerja.

 

Kendala Kepemimpinan dan Budaya Organisasi dalam Meningkatkan Keselamatan Penerbangan di Lanud Surydarma

Lanud Suryadarma merupakan organisasi TNI AU yang dipimpin oleh perwira tinggi berpangkat Bintang satu, yang membawahi satu wing udara, empat dinas, staf khusus dan satuan kerja lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Lanud Suryadarma merupakan satuan besar yang memiliki personel aktif lebih dari 600 orang. Kondisi satuan yang besar menyebabkan Lanud Suryadarma memiliki rentang komando dan kendali yang cukup panjang mulai dari Danlanud sampai dengan prajurit terendah, sehingga dalam distribusi perintah tugas baik lisan maupun tulisan dapat mengalami keterlambatan, ataupun terjadi deviasi penafsiran perintah karena melalui beberapa jenjang kepemimpinan. Disamping itu, perbedaan kendali antara jalur komando dan koordinasi antar pimpinan di dalam organisasi Lanud Suryadarma menyebabkan relasi kuasa yang berbeda pula, sehingga dalam mekanisme pemberian tugas harus melalui tahapan hierarki yang sesuai. Hal-hal tersebut apabila tidak disikapi dengan baik akan mengakibatkan pelaksanaan tugas pokok yang kurang efektif dan efisien, hasil yang tidak maksimal, bahkan salah sasaran.

Disamping itu, di dalam lingkungan Lanud Suryadarma juga memiliki satuan insub yang terdiri dari Depo Pemeliharaan 90, Wing Pendididikan 300, Skadron Pendidikan 105, dan 502, yang seluruhannya memiliki personel yang tidak kalah banyaknya, serta jalur komando dan kendali yang berbeda dengan Lanud Suryadarma. Walaupun posisi tanggung jawab satuan insub tidak secara langsung di bawah Danlanud Suryadarma, namun untuk bidang keamanan dan keselamatan kerja Lanud Suryadarma memiliki fungsi supervisi sebagai tuan rumah. Karena satuan-satuan tersebut berada di luar wewenang Lanud Suryadarma, maka Danlanud sebagai pimpinan tertinggi di Lanud Suryadarma tidak dapat memberikan perintah secara langsung kepada satuan-satuan tersebut, melainkan hanya memiliki fungsi koordinasi sebagai sesama satuan TNI AU. Oleh karena itu, dalam menerapkan kebijakan dan peraturan keselamatan penerbangan kepada satuan insub, Lanud Suryadarma tidak bisa mengontrol secara langsung penerapannya di satuan insub tersebut. Disamping itu, satuan-satuan insub sedikit-banyak akan menambah beban kerja lanud Suryadarma khususnya dalam hal penerapan budaya kerja yang berorientasi keselamatan, sehingga apabila dihadapkan dengan sumber daya terbatas yang dimiliki oleh Lanud Suryadarma maka dapat menyebabkan terbaginya fokus kerja khususnya pada bidang Lambangja Lanud Suryadarma.

Ditambah dengan aktifitas padat yang dimiliki oleh Lanud Suryadarma sebagai salah satu pangkalan operasi di jajaran TNI AU yang mengoperasionalkan secara langsung pesawat terbang. Hal ini menyebabkan pimpinan harus menentukan skala prioritas dalam melaksanakan tugas pokoknya, yang nantinya akan berpengaruh pada pengalokasian anggaran kegiatan, termasuk pada program keselamatan penerbangan. Kegiatan lanud yang banyak berpotensi mengurangi anggara yang seharusnya dialokasikan pada program kerja Lambangja. Lebih dari itu, dengan kondisi aktifitas yang padat maka akan meningkatkan beban kerja personel, dan mobilitas personel akan semakin banyak baik di dalam maupun di luar Lanud Suryadarma, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan baik di penerbangan maupun lingkungan kerja lainnya.

 

SIMPULAN

Keselamatan penerbangan merupakan aspek krusial dalam organisasi militer seperti TNI AU, termasuk di Lanud Suryadarma. Kepemimpinan Danlanud memegang peran sentral dalam menetapkan kebijakan keselamatan yang jelas dan mendukung implementasi program Lambangja. Melalui arahan kepada Kalambangja, yang bertanggung jawab atas keselamatan penerbangan, Danlanud memastikan program-program seperti literasi keselamatan, safety meeting, dan kampanye keselamatan berjalan optimal. Dukungan penuh dari pimpinan mendorong terbentuknya budaya keselamatan yang kuat di Lanud Suryadarma. 

Budaya keselamatan di Lanud Suryadarma terbentuk melalui praktik formal dan informal, seperti prosedur operasi standar, penilaian risiko, dan sosialisasi kebijakan keselamatan. Komitmen ini membantu mengurangi insiden meskipun masih terdapat beberapa kendala, seperti rentang kendali panjang, keterbatasan sumber daya, serta beban kerja tinggi yang dapat mempengaruhi fokus terhadap program keselamatan. Kompleksitas pengawasan terhadap satuan insub yang tidak langsung berada di bawah komando Lanud menambah tantangan dalam implementasi kebijakan keselamatan penerbangan. 

Untuk mengatasi kendala tersebut, peningkatan koordinasi antar satuan, penguatan pengawasan, serta pelatihan dan sosialisasi budaya keselamatan perlu terus diperkuat. Dukungan anggaran yang memadai dan pengalokasian sumber daya yang tepat juga menjadi kunci dalam mengoptimalkan keselamatan penerbangan. Dengan kepemimpinan efektif dan budaya organisasi yang terstruktur, Lanud Suryadarma dapat terus meminimalisir risiko dan memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama.

 

SARAN

Dalam rangka mengoptimalkan pengaruh kepemimpinan militer dan budaya organisasi terhadap peningkatan kinerja personel di Lanud Suryadarma yang berorientasi pada keselamatan penerbangan, ada beberapa saran yang dapat dilaksanakan, yaitu:

1.       Dari segi kepemimpinan, agar seluruh perwira TNI AU mendapatkan pengetahuan khusus nya tentang keselamatan penerbangan. Seluruh perwira merupakan pemimpin di TNI AU sesuai dengan levelnya masing-masing. Oleh karena itu, apabila seluruh perwira memiliki pemahaman yang sama tentang safety maka kepedulian tentang keselamatan penerbangan dapat dilaksanakan secar kolektif.

2.       Dari segi budaya organisasi, agar organisasi Lambangja di setiap lanud dapat dikembangkan tidak hanya berada di dalam staf khusus Danlanud, namun juga tersebar pada seluruh dinas dan satuan kerja di dalam lanud. Sehingga, setiap dinas dan satuan kerja memiliki perwira safety permanen yang bertanggung jawab langsung kepada pimpinan di satuannya, disamping itu juga memiliki jalur koordinasi dengan Kalambangja Lanud Suryadarma.

3.       Pemberian intensif berupa materi dan kesejahteraan lainnya kepada personel lanud yang memiliki kinerja tinggi melebihi tuntutan tugas pokoknya, memberikan dampak positif bagi personel lanud lainnya, dan dampak nyata dalam membangun budaya organisasi yang berorientasi kepada keselamatan.

4.       TNI AU sebagai organisasi menjadikan Lambangja menjadi salah satu key point indicator pada setiap satuan TNI AU termasuk lanud. Kinerja Lambangja lanud dapat dinilai mulai dari proses pencegahan kecelakaan berupa: pembinaan, promosi, penyusunan SOP/Protap, dan sebagainya. Dilanjutkan dengan penilaian hasil berupa: budaya pelaporan, pelaksanaan program kerja, jumlah insiden terbang dan kerja, serta umpan balik dan evaluasi.

   

 

DAFTAR PUSTAKA

Adam, I. (2021). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Demokratis Terhadap Kinerja Personel Komando Daerah Militer (Kodam). Jurnal Meta-Yuridis, 4(1), 73-87. https://doi.org/10.26877/m-y.v4i1.6908

Budiargo, E. Y., Saragih, H. J. R., & Dohamid, A. G. (2019). Kontribusi Persepsi Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Guru Militer di Pusdik Armed. Strategi dan Kampanye Militer (SKM), 5(1), 63-77. https://doi.org/10.33172/skm.v5i1.392

Danişman, Ş., Tosuntaş, Ş. B., & Karadağ, E. (2015). The Effect Of Leadership On Organizational Performance. Leadership And Organizational Outcomes: Meta-Analysis Of Empirical Studies, 143-168. Https://Doi.Org/10.1007/978-3-319-14908-0_9

Enjeli, E. (2020). Pengaruh Budaya Organisasi, Lingkungan Kerja, Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Kementerian Agama Kantor Wilayah Sumatera Utara. Ulan Karya Ilmiah Mahasiswa Fakultas Sosial Sains, 2(2), 1-10.

Fitriani, F., Tahir, M., & Parawu, H. E. (2022). Peran Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kinerja Prajurit Komando Rayon Militer 1407-19/Kahu Kabupaten Bone. Kajian Ilmiah Mahasiswa Administrasi Publik (Kimap), 3(2), 514–526.

Fitriasari, M. A., & Mauludin, H. (2018). The Influence of Leadership on Employee Performance With Organizational Culture And Work Motivation As Intervening Variables. Scientific Research Journal, 6(7), 42–49.

Ghafoor, A., Qureshi, T. M., Khan, M. A., & Hijazi, S. T. (2011). Transformational Leadership, Employee Engagement and Performance: Mediating Effect Of Psychological Ownership. African Journal Of Business Management, 5(17), 7391. Https://Doi.Org/10.5897/AJBM11.126

Girsang, W. S. (2019). Pengaruh Budaya Organisasi Dan Komitmen Terhadap Kinerja Karyawan Rs Putri Hijau No. 17 Medan. Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship, 4(2), 159-170.

Ichsan, R. N., & Nasution, L. (2020). The Determine Of Organizational Culture And Job Promotion On Employee Performance At Pt.Taspen Kantor Cabang Utama Medan. Journal Of Education, Humaniora and Social Sciences, 3(2), 459–466.

Iman, N., & Lestari, W. (2019). He Effect of Leadership On Job Satisfaction, Work Motivation And Performance Of Employees: Studies In Amik Yapennas Kendari. African Journal of Business Management, 13(14), 465–473.

Jeremy, M., Melinde, C., & Ciller, V. (2012). Perceived Leadership Style and Employee Participation In A Manufacturing Company In The Democratic Republic Of Congo. African Journal of Business Management, 6(15), 5389–5398.

Joenoes, A. S. (2022). Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi Dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Personil Satuan Pemeliharaan (Sathar) 53 Di Lanud Adi Soemarmo. Jurnal Unisri, 11(1), 189-201.

Khasanah, A. W. (2019). Pengaruh Budaya Organisasi Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pt. Bama Berita Sarana Televisi (Bbstv Surabaya). Bima: Journal of Business and Innovation Management, 1(2), 141–153.

Kim, T., & Chang, J. (2018). Organizational Culture and Performance: A Macro-Level Longitudinal Study. Leadership & Organization Development Journal, 40(1), 65-84.

Koech, P. M., & Namusonge, G. S. (2012). The Effect Of Leadership Styles On Organizational Performance At State Corporations In Kenya. International Journal Of Business And Commerce, 2(1), 1–12.

Marisa, M., & Nur, S. A. (2021). Kepemimpinan Transformasional Pendidikan Di Era Society 5.0. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Dan Sosial, 10(2), 257–270.

Meng, J., & Berger, B. K. (2019). The Impact of Organizational Culture and Leadership Performance on Professionals’ Job Satisfaction: Testing the Joint Mediating Effects of Engagement and Trust. Public Relations Review, 45, 64–75.

Mousavi, S. A., Hosseini, S. Y., & Hassanpoor, N. (2015). On The Effects of Organizational Culture on Organizational Performance: An Iranian Experience in State Bank Branches.E. Iranian Journal of Management Studies (Ijms), 8(1), 97–116.

Narimawati, U. (2010). Metodologi Penelitian: Dasar Penyusun Penelitian Ekonomi. Genesis.

Nwibere, B. (2013). The Influence of Corporate Culture on Managerial Leadership Style: The Nigerian Experience. International Journal of Business and Public Administration, 10, 166–187.

O’connor, T., & Byrne, J. (2015). Governance And the Corporate Life-Cycle. International Journal of Managerial Finance, 11(1), 23–43.

Ostroff, A., Kinicki, J., & Tamkins, M. M. (2013). Organizational Culture and Climate. John Wiley & Sons, Inc.

Permana, D. A. (2022). Fakta Pamen Desersi 3 Bulan, Dinas Di Mabesal Hinggan Ancaman Penjara. Kompas.Com.

Pertiwi, R., Anissa, D., Sarjito, A., & Hartono, U. (2022). Military Leadership Challenge in Society 5.0. Journal Of Education on Social Science, 6(2), 133–143.

Polychroniou, P., & Trivellas, P. (2018). The Impact 0f Strong and Balanced Organizational Cultures on Firm Performance: Assessing Moderated Effects. International Journal of Quality and Service Sciences, 10(1), 16–35.

Prajogo, D. I., & Mcdermott, C. M. (2011). The Relationship Between Multidimensional Organizational Culture and Performance. International Journal of Operations and Production Management, 31(7), 712–735.

Prasetyo, B. A. (2017). Pengaruh Kekuatan Kepemimpinan Transformasional Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Prajurit Batalyon Perhubungan. Jurnal Prodi Strategi Dan Kampanye Militer, 3(2).

Ramadhan, D. I. (2020). Berbuat Asusila, Prajurit Tni Kodam Iii Siliwangi Dipecat. Detiknews. Https://News.Detik.Com/Berita-Jawa-Barat/D-5239926/Berbuat-Asusila-Prajurit-Tni-Kodam-Iii-Siliwangi-Dipecat

Rawashdeh, A. (2018). Examining The Effect of Green Management on Firm Efficiency: Evidence from Jordanian Oil and Gas Industry. Management Science Letters, 8(12), 1283–1290.

Rehardiningtyas, D. A., & Almubaroq, H. Z. (2021). Transformational Leadership in Military Organization to Supporting National Defense Capability in Era Of Industrial Revolution 4.0: A Literature Review. Journal Of Education on Social Science, 5(2), 177–184.

Schermerhorn, J. R., Hunt, J. G., & Osborn, R. N. (2011). Organizational Behavior Seventh Edition. John Wiley & Sons, Inc.

Sharma, G., & Good, D. (2013). The Work of Middle Managers: Sense Making and Sense Giving for Creating Positive Social Change. The Journal of Applied Behavioral Science, 49, 95–122.

Soeters, J. L., Winslow, D. J., & Weibull, A. (2007). Military Culture. Handbook Of the Sociology of The Military.

Soomro, B. A., & Shah, N. (2019). Determining The Impact of Entrepreneurial Orientation and Organizational Culture on Job Satisfaction, Organizationalcommitment, And Employee’s Performance. South Asian J Bus Stud., 8(3), 266–282.

Sunarsi, D. (2019). The Analysis of The Work Environmental and Organizational Cultural Impact on The Performance and Implication of The Work Satisfaction. Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Publik, 9(2), 237–246.

Syardiansah, L., Daud, A., Windi, M. N., & Suharyanto, A. (2020). The Effect of Job Satisfaction ond Organizational Culture on Employee Performance of The Royal Hotel In East Aceh District. Budapest International Research and Critics Institute, 3(2), 849–857.

Tobari. (2015). Membangun Budaya Organisasi Pada Instansi Pemerintah. Cv. Budi Utama:

Uhl-Bien, M., Riggio, R. E., Lowe, K. B., & Carsten, M. K. (2014). Followership Theory: A Review and Research Agenda. Leadership Quarterly, 25(1), 83–104.

Vitalairu, M., & Mosoiu, O. (2016). Motivation And Leadership- Specific Areas of The Military Organization in The Spirit of Organizational Culture. Scientific Research and Education in The Air Force-Afases.

Yildiz, E. (2014). A Study On The Relationship Between Organizational Culture And Organizational Performance And A Model Suggestion. International Journal Of Research In Business And Social Science, 3(4), 2147–4478.

Yusuf, M. D. (2022). Unggahan Viral Anggota TNI Diduga Lakukan KDRT Kepada Istri, Kapendam IV/Diponegoro Buka Suara. Kompas.Com. https://regional.kompas.com/read/2022/12/01/153813078/unggahan-viral-anggota-tni-diduga-lakukan-kdrt-kepada-istri-kapendam-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar