Rabu, 14 Januari 2026

SATGASUD PENANGGULANGAN BENCANA ALAM SUMATERA TAHUN 2026

 

Sesampainya di Bandara Rembele, siap tugas

PoV Letkol Pnb Dolly ”Dompak” Hutagalung, Stafops Satgas Udara Posko Rembele


Letkol Pnb Galung mendapat perintah tugas ke Posko Satgas Udara (Satgasud) di bandara Rembele (RMB) yang merupakan salah satu wilayah terdampak bencana alam, mulai tanggal 31 Desember 2025 s.d. 8 Januari 2026, dalam rangka rotasi personel yang terlibat semenja awal operasi. Disamping itu, Dompak juga mendapat tugas tambahan sebagai bagian dari AQRT (Advance Quick Response Team) untuk penyelidikan awal helikopter Caracal HT-7205 yang mengalami serious incident saat kembali dari tugas dorongan logsitik (dorlog) di spot bencana wilayah Aceh Tengah. Berangkat melalui Lanud Halim Perdana Kusuma (HLM) pada tanggal 31 Desember 2025 menggunakan pesawat Hercules A-1339 ke Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM) di kota Banda Aceh. Alahamdulillah diberikan kesempatan merayakan tahun baru 2026 di Bumi Serambi Mekah. 

Perjalanan udara memakan waktu hampir 4 jam. Sesampainya di SIM langsung melaksanakan tugas pertama sebagai bagian dari tim investigasi awal bidang Misi. Kegiatan AQRT berlangsung selama 3 hari, mulai dari investigasi awal di lapangan, wawancara dengan crew, sampai dengan pembuatan laporan. Pada hari ke-3 pada tanggal 2 Januari 2026 kegiatan AQRT selesai, tim melanjutkan kembali ke HLM-Jakarta menggunakan herkules. Namun, Dompak tidak ikut kembali ke Jakarta melainkan singgah di Lanud Soewondo (SWO)-Medan untuk melanjutkan penugasan awal/utama sebagai staf operasional Satgasud Gulbencal di posko bandara Rembele kab. Bener Meriah-Aceh Tengah prov. Aceh.

 Setelah bermalam di Medan, esok harinya tanggal 3 Januari 2026 Dompak melanjutkan perjalanan dari SWO ke RMB menggunakan pesawat herkules. Sesampainya di RMB, langsung disambut oleh Dansatgas posko RMB dan staf nya. Dompak pun langsung melaksanakan orientasi wilayah di dalam bandara dan tugas satgas agar bisa cepat mengikuti irama operasi.

         Personel Satgasud posko RMB selama melaksanakan operasi, mendapatkan dukungan akomodasi dari Dishub operator bandara Rembele dan Pemda setempat. Personel tinggal di lantai 2 terminal bandara dan tidur dengan menggunakan fieldbed, ada 1 ruangan yang cukup besar yang mampu menampung seluruh personel Satgas. Ruangan tersebut sekaligus digunakan sebagai tempat vicon dengan posko utama. Sedangkan konsumsi makan didukung dari dapur umum Pemda yang berada di dalam bandara dengan menu yang sederhana seperti nasi+sayur+sambal, dan lauk seadanya. Personel Satgasud bahu-membahu bersama masyarakat daerah dan para stake holder dalam melaksanakan gulbencal. 

Bersama para Relawan Bencana Aceh

Satgasud Gulbencal terdiri dari personel TNI AU gabungan yang berasal dari berbagai macam satuan seperti: SIM, LSE, SWO, RSN, HSN, HLM, SDM, Kodau I, satuan Pasgat dan satuan lainnya. Fokus kegiatan Satgasud adalah mengatur dan mengkoordinasikan alat peralatan pertahanan (Alpalhan) yang di-BKO-kan untuk mendistribusikan/dorlog bencana, pergeseran personel (serpas), evakuasi medis udara, pengamatan wilayah terdampak, dan penugasan lainnya yang mendukung BNPB dalam Gulbencal. 

Konsep umum pada operasi Gulbencal adalah ”civil lead, military assist”, oleh karena itu leading sektornya adalah BNPB bersama dengan Pemerintah daerah termasuk di dalamnya ada BPBD, dibantu oleh komponen TNI yang ada di wilayah ditambahkan Satgas TNI Gulbencal. Khususnya TNI AU dibawah komando Koopsudnas dalam hal ini Kodau I sebagai pengendali operasi karena yang memiliki area operasi sampai pulau Sumatera, selanjutnya dilapangan/tiap-tiap lanud kendali taktis didistirbusikan kepada para Danlanud atau perwira menengah yang ditunjuk untuk menjadi Dansatgasud di masing-masing wilayah yaitu: SUT, SWO, LSE, SIM, dan RMB. Khusus untuk posko utama Kodau I berada di Lanud HLM. 

Pada awal terjadi bencana, pasukan langsung digeser ke spot-spot bencana menjadi tim aju untuk mempersiapkan kedatangan pasukan utama. Seluruh pesawat fix wing dan rotary wing TNI (AU, AL, AD) di-BKO-kan kepada Satgasud yang pergerakannya diatur oleh posko utama yang dipimpin oleh Asops Kodau I. Posko utama selalu berkoordinasi dengan BNPB pusat, sedangkan posko-posko yang ada di daerah bencana dapat berkoordinasi langsung dengan perwakilan BNPB yang ada di daerah. Secara umum, tugas Satgasud membantu BNPB atau sesuai permintaan BNPB untuk melaksanakan operasi Gulbencal. Selain itu, BNPB juga memiliki unit pesawat nya sendiri (non-militer) yang ikut juga dalam operasi. Pengendalian seluruh pesawat yang terlibat Gulbencal baik sipil dan militer melalui hasil koordinasi dari BNPB dan Satagsud.

 

Beberapa Aset Udara yang mendukung Satagsud & BNPB

Pada fase awal bencana juga ada pesawat heli dari Kemhan yang ikut membantu operasi Gulbencal, untuk kendali nya berada dibawah Satgasud. Pengaturan aset udara diselengarakan terpadu oleh Satgasud dengan tujuan agar operasi berjalan dengan efektif dan efisien, serta tetap memperhatikan keselamatan. Para crew dapat fokus melaksanakan misinya, karena logistik/personel yang akan dibawa sudah diatur oleh posko. Apabila ada warga yang mau dievakuasi harus sepengetahuan BNPB setempat. Biasa nya warga diarahkan untuk membuat surat keterangan pengungsi dari: Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pemukiman, BPBD atau Pemda setempat. Satgasud memperoleh data pengungsi dari BNPB setempat, nantinya akan disiapkan pesawat untuk menjemput para pengungsi. Disisi lain, BNPB juga berkoordinasi dengan Pemda asal dari para pengungsi, sehingga sesampainnya di lanud HLM (contoh) para pengungsi langsung dijemput oleh perwakilan Pemdanya. 

Disamping melaksanakan tugas dorlog dan evakuasi pengungsi, Satgasud juga membantu masyarakat daerah khusus nya petani di kab. Bener Meriah dan Aceh Tengah untuk membawa hasil bumi nya dari bandara RMB ke Banda Aceh, Medan, bahkan sampai ke Jakarta, namun menyesuaikan dari sisa ruang muat pesawat.  Karena selama bencana banyak jalur darat yang terputus, sehingga para petani kesulitan untuk mendistribusikan hasil buminya. Apabila tidak dapat segera didistribusikan dikhawatirkan membusuk dan dapat memperburuk kondisi sosial masyarakat yang terdampak bencana. Oleh karena itu, TNI hadir membantu dan meringankan penderitaan rakyat. 

            Tanggap darurat bencana di daerah Sumut dan Sumbar sudah selesai pada tanggal 31 Desember 2025, namun khususnya di Aceh diperpanjang sampai 8 Januari 2026 sesuai permohonan dari Pemda prov. Aceh. Oleh karena itu, Satgasud yang berada di posko RMB masih tetap melaksanakan dukungan, walaupun intensitasnya sudah jauh berkurang dibandingkan pada masa awal bencana.

 

Bersama bapak dan ibu warga kab. Bener Meriah

Rencana pull out dari personel Satgasud RMB pada tanggai 9 dan 10 Januari menyesuaikan dukungan pesawat yang ada. Sampai dengan tanggal 7 Januari, personel kesiapan personel masih 32 orang. Sesuai dengan arahan komando atas, selanjutnya posko RMB akan diisi personel TNI AU di kewilayahan dalam hal ini adalah Lanud SIM. Mekanisme aplus akan dilaksanakan secara berkala sesuai dengan kesiapan dukungan pesawat yang dapat dikendalikan oleh poko utama. Nantinya personel yang baru akan melaksanakan operasi sampai dengan fase pemulihan atau pasca bencana sesuai dengan kebutuhan Pemda. 

Personel RMB yang tersisa sejumlah 32 orang, beserta alkap berupa: mobil tanker/refueler, GSE, Forklift 2 unit milik United Transport, Alkomlek, dan perlengkapan posko lainnya. Sebagian personel dan alkap akan di pull out pada tanggal 9 Januari, sisanya pada tanggal 10 Januari 2026, namun ada sebagian personel yang tetap tinggal seperti personel BMP dan GSE untuk menjaga perlengkapannya. 

Ada Surat Edaran dari Gubernur Aceh tentang perpanjangan masa tanggap darurat bencana dibeberapa kabupaten/kota terdampak seperti: Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Perpanjangan selama 2 minggu s.d. 22 Januari 2026 (bisa diperpanjang/pendek sesuai kebutuhan). 

 

Salah satu jalan yang terputus akibat curah hujan yang tinggi


Adapun Kendala-Kendala yang dihadapi selama operasi Gulbencal: 

1.         Kurang nya personel yang berada di daerah operasi. Khusus nya di RMB tidak ada personel Angkutan Udara yang bertugas mengatur barang dan orang yang akan keluar/masuk ke pesawat, sehingga tugas tersebut di back up oleh personel kesehatan dengan didampingi 1 orang perwira operasi. Untuk screening penumpang dibantu oleh staf intel dan POM Satgas. 

2.         Minimnya personel untuk memasuk/keluarkan logistik ke/dari pesawat menyebabkan waktu tunggu yang diperlukan pesawat untuk siap operasi kembali menjadi lebih lama. 

3.         Kemapuan ATC bandara RMB yang tidak terbiasa menangani traffic pesawat dalam jumlah besar, karena normal nya ada 1-2 pesawat yang keluar/masuk RMB setiap minggunya. Oleh karena itu, personel PLLU dari Satgasud mengambil alih tugas ATC di tower Airnav bandara, sampai akhirnya personel ATC asli bandara mulai terbiasa mengatur lalu lintas udara, barulah personel PPLU Satagasud hanya mendampingi saja.           

4.         Kondisi apron bandara RMB yang terbatas, hanya dapat menampung 3 pesawat sekelas ATR, sehingga dengan traffic yang pada pesawat yang keluar/masuk apron harus diatur waktunya secara bergantian dengan membuat slot time pada setiap harinya.           

5.         Keterbatasan perwakilan dari BNPB di daerah menyebabkannya sering melimpahkan beberapa tugas, wewenang, dan tanggung jawab nya kepada Satgasud, seperti pada pengurusan/seleksi warga pengungsi yang bisa dievakuasi ke luar RMB menggunakan pesawat TNI. 

6.         Pendistribusian logistik bansos, sangat terantung dari akses jalan yang ada, dan kemampuan Pemda untuk mengambil logistik yang sudah sampai di bandara RMB, sehingga tidak jarang logsitik tersebut menumpuk di gudang Cargo bandara. Di bagian pergudangan bandara pendistribusian dilaksanakan oleh Satgas AD yang berasal dari Kodam I dan personel Kodim daerah. 

Jangan lupa bahagia, ngopi Arabika Gayo 

Demikianlah sepenggal kisah personel Satgasud posko Rembele dari PoV Dompak yang sempat merangkap jabatan menjadi Dansatgasud RMB selama 5 hari, sebelum akhirnya digantikan dan kembali ke Jakarta. Mission complish, return to homebase.

 Selesai.


The last man standing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar